Tanggal | Imsyak | Shubuh | Dzuhur | Ashr | Maghrib | Isya |
| 01 | 03:39 | 03:49 | 11:31 | 14:56 | 17:47 | 18:59 |
| 02 | 03:39 | 03:49 | 11:31 | 14:57 | 17:48 | 18:59 |
| 03 | 03:39 | 03:49 | 11:32 | 14:58 | 17:48 | 19:00 |
| 04 | 03:40 | 03:50 | 11:32 | 14:58 | 17:49 | 19:00 |
| 05 | 03:40 | 03:50 | 11:32 | 14:59 | 17:49 | 19:01 |
| 06 | 03:40 | 03:50 | 11:33 | 14:59 | 17:50 | 19:02 |
| 07 | 03:40 | 03:50 | 11:33 | 15:00 | 17:50 | 19:02 |
| 08 | 03:41 | 03:51 | 11:34 | 15:01 | 17:51 | 19:03 |
| 09 | 03:41 | 03:51 | 11:34 | 15:01 | 17:51 | 19:03 |
| 10 | 03:41 | 03:51 | 11:35 | 15:02 | 17:52 | 19:04 |
| 11 | 03:42 | 03:52 | 11:35 | 15:02 | 17:52 | 19:05 |
| 12 | 03:42 | 03:52 | 11:36 | 15:03 | 17:53 | 19:05 |
| 13 | 03:42 | 03:52 | 11:36 | 15:03 | 17:54 | 19:06 |
| 14 | 03:43 | 03:53 | 11:37 | 15:04 | 17:54 | 19:06 |
| 15 | 03:43 | 03:53 | 11:37 | 15:05 | 17:55 | 19:07 |
| 16 | 03:44 | 03:54 | 11:38 | 15:05 | 17:55 | 19:08 |
| 17 | 03:44 | 03:54 | 11:38 | 15:06 | 17:56 | 19:08 |
| 18 | 03:44 | 03:54 | 11:39 | 15:06 | 17:56 | 19:09 |
| 19 | 03:45 | 03:55 | 11:39 | 15:07 | 17:57 | 19:09 |
| 20 | 03:45 | 03:55 | 11:40 | 15:07 | 17:57 | 19:10 |
| 21 | 03:46 | 03:56 | 11:40 | 15:08 | 17:58 | 19:10 |
| 22 | 03:46 | 03:56 | 11:41 | 15:08 | 17:58 | 19:11 |
| 23 | 03:47 | 03:57 | 11:41 | 15:09 | 17:59 | 19:11 |
| 24 | 03:47 | 03:57 | 11:42 | 15:09 | 17:59 | 19:12 |
| 25 | 03:48 | 03:58 | 11:42 | 15:10 | 18:00 | 19:12 |
| 26 | 03:48 | 03:58 | 11:43 | 15:10 | 18:00 | 19:13 |
| 27 | 03:49 | 03:59 | 11:43 | 15:11 | 18:01 | 19:13 |
| 28 | 03:50 | 04:00 | 11:44 | 15:11 | 18:01 | 19:14 |
| 29 | 03:50 | 04:00 | 11:44 | 15:12 | 18:02 | 19:14 |
| 30 | 03:51 | 04:01 | 11:45 | 15:12 | 18:02 | 19:14 |
| 31 | 03:51 | 04:01 | 11:45 | 15:13 | 18:03 | 19:15 |
Rabu, 02 Desember 2015
Jadwal shalat, Untuk Kota Jogja dan sekitarnya yang menggunakan time waktu GMT +7
Pasar Malam Perayaan Sekaten (PSMP) tahun 2015
Pasar Malam Perayaan Sekaten (PSMP) tahun 2015 ini berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya.
Setidaknya ada tiga perbedaan PSMP tahun ini dengan sebelumnya, yaitu sebagai berikut:
Waktu Pelaksanaan 21 Hari
PSMP 2015 hanya berjalan 21 hari, tidak selama tahun sebelumnya selama 40 hari. Sekaten akan dimulai pada 4 Desember-24 Desember 2015 di Alun-Alun Utara. KRT Jatiningrat, yang biasa disapa Romo Tirun menyatakan diperpendekanya PSMP bukan persoalan sama sekali. “Soalnya hanya kegiatan pendukung dari upacara Sekaten. Jadi enggak ada masalah sama sekali,” komentarnya.
Selain itu, alasan lain diperpendeknya waktu karena Alun-ALun Utara masih dalam tahap perbaikan.
Stan Gratis
Stan pedagang di PSMP 2015 digratiskan, tidak seperti tahun lalu yang dipungut bayaran. Pihak penyelenggara pun sudah membuka pendaftaran stan sejak Rabu (25/11) hingga Kamis (26/11) kemarin yang langsung diserbu ratusan pendaftar.
Stan yang disediakan di Sekaten berdasarkan data Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Pertanian (Disperidagkoptan) Kota Jogja, jumlah stan yang disediakan sebanyak 843 stan. Sejumlah stan tertentu akan diatur khusus untuk stan produk potensi daerah dari pemerintah, Forkop setiap kecamatan, dan panggung. Lahan parkir sendiri disediakan melingkar di pinggir jalan PMPS, dan di seputaran Alun-alun utara.
Bentuk Stan Ikut Pemkot
Karena Alun-Alun Utara masih dalam tahap revitalisasi, maka pada pedagang tidak bisa bebas membuat stan. Bentuknya akan mengikuti aturan Pemerintah Kota (Pemkot) agar tidak merusak lapangan Alun-Alun. Saat ini pun pengerjaannya sudah hampir 70 persen.
“Sudah mau 70 persen lah. Kami koordinasi sama Pemkot gimana bentuk stan-nya,” cerita Sukidi, salah seorang pekerja stan di Alun-Alun, Sabtu (28/11) pagi.
#Aristides W/sisidesa
Jumat, 13 November 2015
Gempa Harus Jadi Sahabat Warga Yogyakarta
Warga Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diminta bersahabat dengan gempa,
karena DIY merupakan wilayah yang dekat dengan sumber gempa di laut
maupun di darat sehingga potensi gempa akan terus terjadi.
"Cara yang baik adalah hidup harmonis dengan gempa, caranya
mengetahui apa itu gempa, penyelamatannya gimana, dan apa yang harus
dipersiapkan jika terjadi gempa." kata Kepala Badan Meteorologi,
Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY, Toni Agus Wijaya, saat dihubungi
Jumat (14/10/2015).
Toni mengatakan gempa adalah peristiwa alam wajar di DIY yang sudah terjadi sejak dahulu, karena DIY terletak di dekat sumber gempa tektonik yakni laut selatan atau Samudra Hindia yang merupakan daerah subduksi atau pertemuan dua lempeng tektonik utama.
Namun, di daratan juga terdapat patahan. Gempa daratan atau disebut gempa tektonik merupakan gejalan alam yang tidak memiliki karakter tertentu sehingga tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi.
Hal itu berbeda dengan karakter gempa vulkanik dari gunung yang mudah diprediksi. "Gempa tektonik peristiwa tiba-tiba berupa pelepasan energi yang terkumpul dari bebatuan,” ujarnya.
Meskipun demikian, Toni meminta warga tidak perlu panik. Yang pelu dilakukan adalah mengetahui cara penyelamatan. Warga DIY, kata dia, perlu mencontoh Jepang, yang sudah bersahabat dengan gempa, meski gempa di Jepang lebih dekat dengan sumber gempa, bahkan sumber gempa Jepang ada di daratan.
BMKG DIY mencatat sejak tiga bulan terakhir sudah terjadi 15 kali gempa di DIY dan intensitas gempa meningkat, baik gempa yang berpusat di darat maupun laut. "Tapi skalnya relatif kecil, antara 2-5 skala richter,” tuturnya.
Menurut Toni, dari lima belas kali gempa sejak Agustus, gempa pada Rabu (11/11/2015) lalu yang berpusat di Bantul merupakan gempa terbesar dengan kekuatan 5,6 skala richer (SR). Gempa itu diakuinya cukup kuat dirasakan terutama oleh warga di bagian selatan DIY.
Gempa Bantul, menurutnya, juga dirasakan sampai Bandung, Jawa Barat dan Kediri, Jawa Timur meski goncangan yang dirasakan kecil, karena semakin jauh dari pusat gempa, goncangan akan semakin pelan.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Agus Winarto mengatakan, sejumlah bencana yang berpotensi terjadi di antaranya adalah gempa, banjir, tanah longsor dan angin kencang.
"Bencana tidak bisa diprediksi sehingga yang bisa dilalukan adalah menyiapkan warga untuk selalu waspada jika sewaktu-waktu terjadi bencana," tuturnya.
Saat ini, Yogyakarta sudah memiliki 55 kampung tangguh bencana yang ditujukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana dan meningkatkan kemampuan mitigasi bencana di masyarakat. #Wilujeng Kharisma/Pr
Gambaran sederhana diatas menunjukkan bahwa patahan Opak berupa patahan
normal, dimana memiliki bidang yang miring kearah barat, dan dibagian
atasnya terkubur dibawah endapan Merapi. Sehingga bidangnya tidak
terlihat. Foto by rovicky
Toni mengatakan gempa adalah peristiwa alam wajar di DIY yang sudah terjadi sejak dahulu, karena DIY terletak di dekat sumber gempa tektonik yakni laut selatan atau Samudra Hindia yang merupakan daerah subduksi atau pertemuan dua lempeng tektonik utama.
Namun, di daratan juga terdapat patahan. Gempa daratan atau disebut gempa tektonik merupakan gejalan alam yang tidak memiliki karakter tertentu sehingga tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi.
Hal itu berbeda dengan karakter gempa vulkanik dari gunung yang mudah diprediksi. "Gempa tektonik peristiwa tiba-tiba berupa pelepasan energi yang terkumpul dari bebatuan,” ujarnya.
Meskipun demikian, Toni meminta warga tidak perlu panik. Yang pelu dilakukan adalah mengetahui cara penyelamatan. Warga DIY, kata dia, perlu mencontoh Jepang, yang sudah bersahabat dengan gempa, meski gempa di Jepang lebih dekat dengan sumber gempa, bahkan sumber gempa Jepang ada di daratan.
BMKG DIY mencatat sejak tiga bulan terakhir sudah terjadi 15 kali gempa di DIY dan intensitas gempa meningkat, baik gempa yang berpusat di darat maupun laut. "Tapi skalnya relatif kecil, antara 2-5 skala richter,” tuturnya.
Menurut Toni, dari lima belas kali gempa sejak Agustus, gempa pada Rabu (11/11/2015) lalu yang berpusat di Bantul merupakan gempa terbesar dengan kekuatan 5,6 skala richer (SR). Gempa itu diakuinya cukup kuat dirasakan terutama oleh warga di bagian selatan DIY.
Gempa Bantul, menurutnya, juga dirasakan sampai Bandung, Jawa Barat dan Kediri, Jawa Timur meski goncangan yang dirasakan kecil, karena semakin jauh dari pusat gempa, goncangan akan semakin pelan.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta Agus Winarto mengatakan, sejumlah bencana yang berpotensi terjadi di antaranya adalah gempa, banjir, tanah longsor dan angin kencang.
"Bencana tidak bisa diprediksi sehingga yang bisa dilalukan adalah menyiapkan warga untuk selalu waspada jika sewaktu-waktu terjadi bencana," tuturnya.
Saat ini, Yogyakarta sudah memiliki 55 kampung tangguh bencana yang ditujukan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap bencana dan meningkatkan kemampuan mitigasi bencana di masyarakat. #Wilujeng Kharisma/Pr
Rabu, 07 Oktober 2015
Pawai Budaya Jogja Istimewa HUT Kota Jogja ke-259
Puncak Pawai Budaya Jogja Istimewa yang dipusatkan di Tugu Yogyakarta. Kegiatan pawai ini berlangsung mulai pukul 19.00 WIB hingga 21.00 WIB
Ada sedikit perbedaan dalam pawai dari tahun-tahun sebelumnya. Jika tahun lalu dipusatkan di Titik Nol dengan lintasan Jalan Malioboro, kali ini dipusatkan di Tugu Yogyakarta.
Alasannya, lokasi Titik Nol Yogyakarta sedang direnovasi, sehingga tidak memungkinkan digelar hajatan di kawasan tersebut. Untuk itu, puncak peringatan digelar di Kawasan Tugu Yogyakarta.
Setidaknya ada sekitar 4.000 orang dari berbagai komunitas dan masyarakat yang terlibat meramaikan acara pawai budaya ini, dari kecamatan sampai tingkat kelurahan dan berbagai lembaga yang ada di Kota Jogja.
Sabtu, 03 Oktober 2015
Sejarah Berdirinya Kota Jogja
#Foto Tugu Jogja Indra Bayu Permana/KF/Kompas
Keberadaan Kota Yogyakarta tidak bisa lepas dari keberadaan
Kasultanan Yogyakarta. Pangeran Mangkubumi yang memperjuangkan
kedaulatan Kerajaan Mataram dari pengaruh Belanda, merupakan adik dari
Sunan Paku Buwana II. Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada hari
Kamis Kliwon tanggal 29 Rabiulakhir 1680 atau bertepatan dengan 13
Februari 1755, Pangeran Mangkubumi yang telah bergelar Susuhunan
Kabanaran menandatangani Perjanjian Giyanti atau sering disebut dengan Palihan Nagari . Palihan Nagari inilah
yang menjadi titik awal keberadaan Kasultanan Yogyakarta. Pada saat
itulah Susuhunan Kabanaran kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku
Buwana Senopati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah
Ingkang Jumeneng Kaping I. Setelah Perjanjian Giyanti ini, Sri Sultan
Hamengku Buwana mesanggrah di Ambarketawang sambil menunggui pembangunan fisik kraton.Sebulan setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tepatnya hari Kamis Pon tanggal 29 Jumadilawal 1680 atau 13 Maret 1755, Sultan Hamengku Buwana I memproklamirkan berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dengan ibukota Ngayogyakarta dan memiliki separuh dari wilayah Kerajaan Mataram. Proklamasi ini terjadi di Pesanggrahan Ambarketawang dan dikenal dengan peristiwa Hadeging Nagari Dalem Kasultanan Mataram – Ngayogyakarta. Pada hari Kamis Pon tanggal 3 sura 1681 atau bertepatan dengan tanggal 9 Oktober 1755, Sri Sultan Hamengku Buwana I memerintahkan untuk membangun Kraton Ngayogyakarta di Desa Pacethokan dalam Hutan Beringan yang pada awalnya bernama Garjitawati.
Pembangunan ibu kota
Kasultanan Yogyakarta ini membutuhkan waktu satu tahun. Pada hari Kamis
pahing tanggal 13 Sura 1682 bertepatan dengan 7 Oktober 1756, Sri Sultan
Hamengku Buwana I beserta keluarganya pindah atau boyongan
dari Pesanggrahan Ambarketawan masuk ke dalam Kraton Ngayogyakarta.
Peristiwa perpindahan ini ditandai dengan candra sengkala memet Dwi Naga Rasa Tunggal
berupa dua ekor naga yang kedua ekornya saling melilit dan diukirkan di
atas banon/renteng kelir baturana Kagungan Dalem Regol Kemagangan dan
Regol Gadhung Mlathi. Momentum kepindahan inilah yang dipakai sebagai
dasar penentuan Hari Jadi Kota Yogyakarta karena mulai saat itu berbagai
macam sarana dan bangunan pendukung untuk mewadahi aktivitas
pemerintahan baik kegiatan sosial, politik, ekonomi, budaya maupun
tempat tinggal mulai dibangun secara bertahap. Berdasarkan itu semua
maka Hari Jadi Kota Yogyakarta ditentukan pada tanggal 7 Oktober 2009
dan dikuatkan dengan Peraturan Daerah Kota Yogyakarta Nomor 6 Tahun
2004.
Kota Pelajar
Antara awal tahun 1946 sampai akhir tahun 1949, selama lebih kuran 4 tahun, Yogyakarta menjadi Ibukota Negara RI.
Pada masa itu para pimpinan bangsa Indonesia berkumpul di kota
perjuangan ini. Seperti layaknya sebuah ibukota, Jogja memikat
kedatangan para kaum remaja dari seluruh penjuru tanah air yang ingin
berpartisipasi dalam mengisi pembangunan negara ini yang baru saja
medeka. Namum untuk dapat membangun suatu negara diperlukan
tenaga-tenaga ahli, terdidik dan telatih. Dan karena itulah yang melatar
belakangin pemerintah RI untuk mendirikan sebuah Universitas, yang kita
kenal dengan nama Universitas Gajah Mada, merupakan Universitas Negeri
pertama yang lahir pada masa kemerdekaan.
![]() |
| Universitas Gadjah Mada |
Selanjutnya diikuti dengan berdirinya akademi di bidang kesenian(Akademi
Seni Rupa Indonesia dan Akademi Musik Indonesia), serta sekolah tinggi
di bidang agama Islam (Perguruan Tinggi Agama Islam Negaeri, yang
selanjutnya menjadi IAIN Sunan Kalijaga). Pada waktu selanjutnya juga
bediri lembaga-lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta di kota
Yogyakarta, sehingga hampir tidak ada cabang ilmu pengetahuan yang tidak
diajarkan di kota ini. Hal ini menjadikan kota Jogja tumbul menjadi
kota pelajar dan pusat pendidikan. Sarana mobilitas paling populer di
kalangan pelajar,mahasiswa,karyawan,pegawai,pedagang dan masyarakat umum
adalah sepeda dan sepeda motor, yang merupakan sarana trasportasi yang
digunakan baik siang mupun di malam hari. Hal ini menjadika Jogja juga
dikenal dengan sebutan kota sepeda.
Pusat Kebudayaan
Pada hakekatnya, seni budaya yang
asli dan indah selalu terdapat di lingkunggan kraton dan daerah
disekitarnya. Sebagai bekas suatu Kerajaan yang besar, maka Yogyakarta
memiliki kesenian dan kebudayaan yang tinggi dan bahkan merupakan pusat
sumber seni budaya Jawa. Hal ini dapat kita lihat dari peninggalan
seni-budaya yang dapat kita saksikan pada pahatan pada monumen-monumen
peninggalan sejarah seperti candi-candi, istana Sultan dan tempat-tempat
lain yang masih berkaitan dengan kehidupan istana. Dan sebagian dapat
disaksikan pada moseum-moseum budaya.
![]() |
| Prajurit Kraton Tempoe Doeloe |
Kehidupan seni tari dan seni lainnya
juga masih berkembang pesat di kota Jogja serta nilai-nilai budaya
masyarakat Jogja terukap pula dalam bentuk arsitektur rumah penduduk,
dengan bentuk joglonya yang banyak dikenal di seluruh Indonesia. Andhong
antik di Jogja memperkuat kesan, bahwa Yogyakarta masih memiliki
nilai-nilai tradisional. Seniman terkenal dan seniman besar besar yang
ada di Indonesia saat ini, banyak yang didik dan digembleng di
Yogyakarta. Sederetan nama seniman seperti Affandi, Bagong Kusdiharjo,
Edi Sunarso, Saptoto, Amri Yahya, Kuswadji Kawindro Susanto dan
lain-lain merupakan nama-nama yang ikut memperkuat pernanan Yogyakarta
sebagai Pusat Kebudayaan.
Daerah Tujuan Wisata
Pada masa sekarang, seluruh predikat
Yogyakarta luluh mejadi satu dan berkembang menjadi satu dimensi baru :
Yogyakarta sebagai Daerah Tujuan Wisata. Keramahtamahan yang tulus, khas
Yogyakarta, akan menyambut para wisatawan di saat mereka datang, sengan
kemesraan yang dalam akan mengiring, saat mereka meninggalkan Yogya,
dengan membawa kenangan manisyang tidak akan mereka lupakan sepanjang
masa.
![]() |
| Malioboro Jaman Author belum Lahir |
Perananya sebagai kota Perjuangan,
daerah Pelajar dan Pusat Pendidikan, serta daerah Kebudayaan, ditunjang
oleh panorama yang indah, telah mengangkat Yogyakarta sebagai Daerah
yang menarik untuk dikunjungi dan mempesona untuk disaksikan. Yogyakarta
juga memiliki berbagai fasilitas dengan kualitas yang memadai yang
tersedia dalam jumlah yang cukup, Kesemuanya itu akan bisa memperlancar
dan memberi kemudahaan bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota
Yogya. Sarana transportasi, akomodasi dan berbagai sarana penunjang
lainnya, seperti santapan makan-minum yang lezat, serta aneka ragam
cinderamata, mudah diperoleh di mana-mana.
Sumber : Risalah Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No 6 Tahun 2004.
Garebeg Pasar Tradisional Bakal Awali Rangkaian HUT ke-259 Kota Yogya
HUT ke-259 Kota Yogyakarta akan diawali dengan Kirab Pedagang Pasar Tradisional atau Grebeg Pasar Kota Yogyakarta 2015.
#Foto Hendra Wardana juni 2013.
Kirab nantinya akan diikuti kurang lebih 2100 orang yang berasal dari 45 paguyuban yang tersebar di 31 pasar tradisional.
Dalam kirab tersebut, masing-masing paguyuban pasar akan menampilkan ciri khas masing-masing pasar tradisional.
Ciri tersebut akan ditampilkan baik dalam gunungan yang dibawa, kostum maupun atraksi di jalanan.
Paguyuban Pasar Telo misalnya, akan menampilkan ciri khas mereka yang identik dengan hasil bumi, terutama telo atau singkong.
Sementara Pasar Sentul yang memiliki ciri khas menjual jagung juga akan menampilkan atraksi sesuai dengan ciri khas yang dimilikinya tersebut. Dan ada pula Pasar Terban yang memiliki ciri khas dagangan ayam.
Atraksi masing-masing paguyuban pasar tradisional ini nantinya akan diseleksi untuk memilih juara I, II, dan III.
Adapun rute Kirab Pasar Tradisional ini akan mulai dari Pasar Beringharjo dan berakhir di Pasar Ngasem.
Di Pasar Ngasem inilah nantinya gunungan bisa diperebutkan masyarakat. Rute yang dilewati antara lain Jalan Pabringan, Jalan Margo Mulyo, Titik Nol, Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Nyi Ahmad Dahlan, dan Jalan Ngasem.
Selain Grebeg Pasar, HUT Kota Yogyakarta tahun ini juga akan disemarakkan dengan Grebeg Mall pada 5 Oktober, Kenduri Jogja pada 6 Oktober dan Pawai Budaya sebagai puncaknya pada 7 Oktober mendatang. #Tribunjogja
Kamis, 13 Agustus 2015
"Pramuka Garda Terdepan Pelaku Perubahan dalam Pembentukan Karakter Kaum Muda".
Sejarah dan Makna Hari Gerakan Pramuka 14 Agustus 2015
Sejarah dan Makna Hari Pramuka tanggal 14 Agustus 2015 . setiap hari
besar yang masukkan dalam hari besar Nasional Indonesia tentunya
mempunyai sejarah tersendiri , baik itu dalam latar belakang terjadinya ,
latar belakang penetapan hari nya dan juga sejumlah makna yang
terkandung dalam hari yang selalu diperingati berulang ulang setiap
tahunnya itu . dan kalii ini yang akan segera di peringati dalam waktu
dekat adalah peringatan hari Gerakan Pramuka yang jatuh pada hari Jumat
tanggalk 14 agustus 2015 tentunya . bagi anda yang ingin menggali
sejarah Pramuka dan makna hari pramuka mari kita sama sama ulas disini ,
jika ada kesalahan maka mohon dikoreksi .
Sejarah Pramuka Di Indonesia : Gerakan Pramuka juga disebut Kepanduan di Indonesia sudah ada sejak tahun 1923 dengan adanya Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) yang berada di Bandung. juga pada tahun yang sama, di Kota Jakarta dibentuk Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO). Kedua organisasi akar dari kepanduan di Indonesia ini bersatu bernama Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) di kota Bandung pada tahun 1926.Sejarah penetapan tanggal 14 agustus sebagai Hari Pramuka :
Tahap tahap hingga Gerakan Pramuka muncul
– HARI TUNAS GERAKAN PRAMUKA : Hari dimana Presiden/Mandataris MPRS berpidato didepan para tokoh dan pimpinan yang mewakili organisasi kepanduan yang terdapat di Indonesia pada tanggal 9 Maret 1961 di Istana Negara.
– HARI PERMULAAN TAHUN KERJA. : Diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, tentang Gerakan Pramuka yang menetapkan Gerakan Pramuka sebagai satu-satunya organisasi kepanduan yang ditugaskan menyelenggarakan pendidikan kepanduan bagi anak-anak dan pemuda Indonesia, serta mengesahkan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka yang dijadikan pedoman, petunjuk dan pegangan bagi para pengelola Gerakan Pramuka dalam menjalankan tugasnya. Tanggal 20 Mei adalah; Hari Kebangkitan Nasional, namun bagi Gerakan Pramuka memiliki arti khusus dan merupakan tonggak sejarah untuk pendidikan di lingkungan ke tiga. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai
– HARI IKRAR GERAKAN PRAMUKA. : Pernyataan para wakil organisasi kepanduan di Indonesia yang dengan ikhlas meleburkan diri ke dalam organisasi Gerakan Pramuka, dilakukan di Istana Olahraga Senayan pada tanggal 30 Juli 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai
– HARI PRAMUKA : Pelantikan Mapinas, Kwarnas dan Kwarnari di Istana Negara, diikuti defile Pramuka untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang didahului dengan penganugerahan Panji-Panji Gerakan Pramuka, dan kesemuanya ini terjadi pada tanggal pada tanggal 14 Agustus 1961. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai .
Langganan:
Postingan (Atom)







