Sabtu, 06 Juni 2015

#ART|JOG 8 di Taman Budaya Yogyakarta

Pembukaan pameran seni ART|JOG8 sabtu malam 06 juni  pukul 19.00 WIB menyedot ribuan pengunjung dan memadati areal Taman Budaya Yogyakarta (TBY).





Berbagai pertunjukan seni modern di atas panggung disajikan menjadi sorotan mata ribuan pengunjung.
Pameran skala global ini menghadirkan karya seni the new media, teknologi mekanik, motorik, sensor, robotik atau gelombang suara tersemat pada karya-karya seni yang diseleksi dari 1.300 karya dan 850 aplikasi tersebut dan terpajang hingga 28 Juni di Taman Budaya Yogyakarta, jam buka pameran 10.00 - 21.00 WIB dengan harga ticket masuk Rp.50.000 umum dan Rp.25.000 untuk Pelaja.

'Karya ArtJog 8 kali ini bukan hanya dilihat tapi juga bisa dimainkan karena ada gerak atau sekedar ada bau dari karya itu. Kami memberi kesempatan penonton yang ingin lebih tahu tentang karya," #Direktur ART|JOG Satriagama Rakantaseta.





Jumat, 05 Juni 2015

Hari ini 103 Karya dari 87 Seniman akan Meriahkan Art Jog 2015

Sebanyak 103 karya dari 87 seniman nasional maupun internasional akan tersaji dalam even Art Jog 2015. Pameran seni kedelapan yang diadakan ini akan dibuka pada 6 Juni dan berlangsung hingga 28 Juni, di Taman Budaya Yogyakarta.

#Seniman Eddi Prabandono saat merampungkan karya seni rupanya berjudul "Membangun Ketahanan Pangan" di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu (3/6). Antara

Bambang Toko’ Witjaksono menerangkan tema yang diangkat ART|JOG|8 kali ini pijakan yang dipilih lebih ke konteks kesejarahan seni rupa itu sendiri, yakni fluxus,” ucap Bambang. Sebagai kurator ART|JOG|8, ia melihat bahwa fenomena yang saat ini terjadi serupa dengan gerakan fluxus beberapa tahun silam. Ia mengungkapkan, “Membludaknya penonton dan fenomena selfie yang terjadi pada gelaran ART|JOG|14 menunjukkan keinginan pengunjung untuk dekat dengan karya yang ditampilkan. Artinya, sekarang itu kebutuhan pengunjung tidak hanya menonton tapi juga mengaktualisasikan dirinya melalui foto misalnya. Ini menunjukkan bahwa ada hubungan yang erat antara karya, seniman, dan penonton. Serupa dengan gerakan fluxus”.

Rabu, 03 Juni 2015

#Foto: Perayaan Waisak di Candi Sewu

Perayaan Waisak di Candi Sewu, Prambanan, Klaten

 

Ribuan umat Buddha dari Jawa Tengah dan DIY memadati kompleks Candi Sewu Prambanan, Klaten, Jawa Tengah Selasa 2 Juni 2015. Perayaan Waisak yang diselenggarakan Keluarga Buddhayana Indonesia kali ini mengambil tema “Dhamma Pelindung Dunia”. Detik-detik Waisak yang jatuh pada pukul 23.18.43 WIB.

Tumpeng dan gunungan hasil bumi sebagai sarana puja bakti selain air dan api suci dikirab dari Candi Lumbung menuju Candi Sewu dengan diiringi berbagai kesenian tradisional.
Waisak merupakan peringatan atas kelahiran Sidharta, pencapaian penerangan sempurna oleh petapa Gautama dan Parinibanna (wafat)nya Sang Buddha.




 

Minggu, 24 Mei 2015

Festival Bregada Keprajuritan Rakyat DIY 2015.

31 kelompok mengikuti Festival Bregada Keprajuritan Rakyat DIY. Dengan mengangambil Start: GOR Pangukan dan Finis: di lapangan Denggung  yang digelar oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY. Masing-masing kelompok terdiri dari 40 hingga 60 personel. Minggu 24 mei 2015.
Dilepas oleh Bupati Kabupaten Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSi

Widihasto selaku sekretaris panitia mengatakan, ada 31 tim bergodo dari seluruh Yogyakarta yang ikut ambil bagian pada event yang baru dua kali dilangsungkan ini. Tahun lalu, Kota Yogyalarta bertindak sebagai tuan rumah. Tahun ini giliran Kabupaten Sleman dan tahun depan kegiatan serupa direncanakan akan berlangsung di Kabupaten Bantul.

"Bergodo keprajuritan rakyat ini merupakan imitasi dari bergodo keraton. Sebab mereka murni dari masyarakat dari tingkat desa hingga kecamatan. Dibutuhkan kerjasama antar tim agar selama berjalan, mereka tetap bisa kompak. Sebab mereka diharuskan untuk berjalan," ujarnya.






Jumat, 22 Mei 2015

Ramadhan Jogja 2015

Ramadan 1436 H - 2015 M.

Ijtimak jelang bulan Ramadan 1436 H terjadi pada hari Selasa Legi tanggal 16 Juni
2015 pukul 21:07:23 WIB. Perhitungan waktu terjadi ijtimak ini didasarkan pada ijtimak
geosentrik sehingga momen terjadinya ijtimak tersebut terjadi pada waktu yang bersamaan
untuk seluruh tempat di muka Bumi, hanya saja jamnya tergantung pada jam di tempat
bersangkutan. Di Yogyakarta, ijtimak terjadi pada malam hari sekitar 3 jam 36 menit 48 detik
setelah Matahari terbenam, karena terbenam Matahari di Yogyakarta pada hari Selasa Legi itu
terjadi pada pukul 17:30:35 WIB. Demikian pula untuk seluruh tempat di Indonesia ijtimak
terjadi pada malam hari setelah terbenam Matahari. Terbenam Matahari yang paling akhir di
Indonesia pada hari itu, di ujung barat Indonesia, di Sabang (lintang (f) = 05° 54¢ dan bujur
(l) = 95° 21¢ BT.) terbenam Matahari terjadi pada pukul 18:54:21 WIB. Sementara itu, di
ujung timur Indonesia, di Merauke (lintang (f) = -08° 30¢ dan bujur (l) = 140° 27¢ BT.)
terbenam Matahari terjadi pada pukul 17:37:41 WIT atau pukul 15:37:41 WIB.

Rabu tanggal 17 Juni 2015 ketingian Bulan di Yogyakarta +09° 44¢ 35², di
Sabang +09° 16¢ 51², dan di Merauke +08° 46¢ 46². Tanggal 1 Ramadan 1436 H ditetapkan
pada hari Rabu malam tanggal 17 Juni 2015 dan konversinya dengan kalender Masehi
ditetapkan pada keesokan harinya yaitu tanggal 18 Juni 2015. Itulah sebabnya maka dikatakan
tanggal 1 Ramadan 1436 H jatuh pada hari Kamis Pon 18 Juni 2015.

Sumber : www.muhammadiyah.or.id/

Selasa, 19 Mei 2015

"Labuhan Gunung Merapi" Kraton Yogyakarta

Ratusan "abdi dalem" dan masyarakat mengikuti upacara adat Labuhan Gunung Merapi yang merupakan Hajat Dalem Kraton Ngayogyakarto Hadininingrat, di Bangsal Srimanganti, Desa Umbulharjo, Cangkringan Sleman, Rabu (20/5/2015).


Prosesi labuhan Gunung Merapi yang dipimpin langsung Juru Kunci Merapi, Mas Kliwon Suraksohargo ini, tidak ada pesan khusus dari Sultan HB X pascasabda raja beberapa waktu lalu.

"Labuhan alit tahun ini, sama seperti tahun lalu. Tidak ada pesan khusus dari Keraton Yogyakarta pascasabda raja," kata Mas Kliwon Suraksohargo.

Prosesi labuhan diawali dari Pendopo Balai Labuhan yang merupakan petilasan rumah Mbah Maridjan, sekitar pukul 06.20 WIB. Prosesi diawali dengan doa di depan "uba rampe" yang telah disemayamkan di Balai Labuhan Dusun Kinahrejo atau petilasan rumah Mbah Maridjan dan kemudian diarak dan dilabuh di Bangsal Srimanganti.

Ratusan abdi dalem dan masyarakat ini mengikuti prosesi upacara adat labuhan dengan berjalan kaki menempuh jarak sekitar dua kilometer atau sekitar dua jam berjalan kaki hingga di Bangsal Srimanganti.

Ikut menyertai 'uba rampe' labuhan yakni kembang setaman, nasi tumpeng, ingkung serta serundeng, yang dibagikan kepada setiap pengunjung setelah selesai upacara labuhan.

"Labuhan Gunung Merapi memiliki makna ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat berupa perlindungan keselamatan dan kesejahteraan," katanya.

Selain itu, Labuhan Gunung Merapi ini sekaligus sebagai simbol menjaga keselarasan hidup manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.

"Upacara adat ini dihelat sebagai bagian dari rangkaian pengetan jumenengan dalem Sri Sultan HB X," katanya.

Sedangkan "Uba rampe" yang dilabuh tersebut meliputi Sinjang Limaran, Sinjang Cangkring, Semekan Gadung, Semekan Gadung Mlati ,Peningset Udaraga, Seswangan, Seloratus Lisah Konyoh, Kembang Setaman, Yotro Tindih, Destar Doromuluk, dan lainya.

"Upacara adat labuhan Merapi tetap digelar dengan sederhana dan tata cara pelaksanaan juga tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya," katanya.

Upacara adat labuhan alit tahun ini selain dilaksanakan di Gunung Merapi juga di Pantai Parangkusumo, Bantul dan Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.
 #Labuhan Merapi yang dilakukan Keraton Yogyakarta. (Antara/Noveradika)

Senin, 18 Mei 2015

#TrenSosial : Pencarian Erri Laka Merapi

Proses evakuasi Erri Yunanto, 21, yang jatuh ke kawah Gunung Merapi merupakan proses yang paling sulit dan menantang dalam sejarah evakuasi pendakian di gunung aktif tersebut.


Mahasiswa Universitas Atmajaya Yogyakarta tersebut jatuh ke kawah pada Minggu (18/05). Sejumlah laporan menyebut Erri jatuh saat turun dari tebing pinggir kawah usai melakukan foto-foto.
Tri Atmojo, Pelaksana Harian Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi, mengatakan kasus jatuhnya pendaki ke kawah adalah yang pertama dan tim evakuasi menghadapi "medan yang sulit" karena "masalah suhu dan gas beracun."
"Kami sudah menemukan lokasi jatuhnya di kedalaman 150 meter. Tetapi evakuasi tidak bisa dilakukan dengan cepat karena kami tak bisa melawan dua faktor, yaitu suhu dan gas."
"Ini yang pertama kali, menurut kami skalanya luar biasa dilihat dari alat dan personel yang kami libatkan."
Tri menyebut tim evakuasi terdiri dari enam orang dan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone dan alat pengukur suhu milik badan vulkanologi untuk memantau temperatur.

Sedang selfie?

"Kalau suhu sekitar 30-an kami berani, kalau di atas sampai 40 dan 50 derajat kami tidak berani. Suhunya berubah-ubah sehingga tingkat kesulitan tertinggi."
Di media sosial, foto Erri di tebing - sebelum terjatuh - sempat diabadikan oleh seorang saksi, Bagus Deni, dan diunggah melalui akun Instagram-nya.
Kepada BBC Indonesia, Bagus Deni mengatakan saat kejadian, di area puncak Merapi tak banyak orang. "Saya kaget dan prihatin. Saya juga langsung mendoakan di atas. Kaki saya kaku setelah melihatnya."
Foto yang disebut-sebut sebagai 'foto terakhir' Erri itu kemudian beredar luas dan menuai respons dari pengguna media sosial.
Laporan sejumlah media yang menyebut bahwa korban sedang 'selfie' membuat perdebatan tentang bahaya selfie menghangat.
Namun untuk yang terakhir ini, Bagus membantah. "Ketika itu dia tidak selfie, hanya bawa botol minum."