Selasa, 05 November 2019

Tol Solo-Jogja-Bandara Tanpa Rest Area, Pemda DIY Ingin Lindungi Usaha Kecil



Pemda DIY melalui Unit Manajemen Proyek Tim Percepatan Pelaksanaan Program Pembangunan DIY memastikan telah mendapatkan informasi terkait pelaksanaan lelang tol Solo–Jogja-Yogyakarta International Airport.
Ketua Tim Unit Manajemen Proyek Tim Percepatan Pelaksanaan Program Pembangunan DIY Rani Sjamsinarsi menjelaskan izin penetapan lokasi (IPL) dari Gubernur DIY telah kirim ke Pemerintah Pusat. Jenis proyek ini keduanya menggunakan sistem Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) baik tol Jogja – Bawen dan Solo  - Jogja – YIA. Khusus untuk Jogja-Bawen merupakan solicited atau diprakarsai pemerintah sedangkan Solo – Jogja – YIA unsolicited atau pemrakarsa badan usaha.
Terkait pengadaan lahan, Rani memastikan akan dilakukan langsung oleh Pemerintah Pusat melalui satuan kerja (Satker) yang ada di wilayah. Namun melalui koordinasi dengan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (DPTR) DIY. Pengadaan lahan secara langsung ditangani pusat baik pelaksana maupun anggarannya.

“Saat ini koordinasi dengan perwakilan pusat terus dilakukan, termasuk pengarahan Ngarso Dalem seperti apa, kita lihat teknisnya kemudian bisa atau tidak,” ujarnya di Kepatihan, Selasa (5/11/2019).
Sosialisasi kepada warga, kaat dia, akan dilakukan Pemerintah Pusat dengan didampingi tim dari Pemda DIY. Saat ini sosialisasi baru disampaikan pada tahap kecamatan. Sebagai tim percepatan, pihaknya mendorong agar proyek tersebut bisa berjalan dengan lancar.

Rani mengatakan tol yang melintasi wilayah DIY tanpa dilengkapi dengan rest area. Pertimbangan jika rest area berada di dalam tol, maka DIY harus menyiapkan lahan sedikitnya dua hektare untuk bisa menampung banyak UMKM lokal agar bisa masuk.
Lahan rest area sebenarnya bisa diadakan oleh Pemerintah Pusat, namun dikhawatirkan jika tol sudah beroperasi UMKM tidak bisa masuk karena sewanya mahal. Oleh karena itu, dengan tanpa rest area diharapkan pengguna tol bisa mampir masuk untuk melihat Jogja.
Sehingga diperbanyak sejumlah exit dengan mengambil pada titik yang bisa diarahkan langsung pada suatu kawasan wisata tertentu. Menurutnya ada sekitar enam exit yang telah ditetapkan yang nantinya akan bisa menjadi jalan menuju kawasan wisata tertentu yang menarik bagi pejalan kaki. Pemerintah Pusat telah menyetujui terkait rencana tol di Jogja tanpa dilengkapi rest area.
“Rest areanya nanti lebih diarahkan pada kawasan wisata dan pusat kuliner, yang nanti akan diinfokan melalui exit, misalnya, ini misal ya, ada elevated di Ringroad Utara, nanti exit-nya bisa diarahkan ke Jogja Bay,” ucapnya.

Rani  berharap dengan tanpa rest area ini DIY mendapatkan keuntungan dengan adanya tol sehingga tidak sekadar kelewatan saja. Ia mencontohkan, exit tol yang rencananya di kawasan perbatasan DIY – Jateng di Prambanan atau Kalasan akan dikoneksikan dengan jalur menuju Gunungkidul, sehingga pengguna jalan bisa memilih untuk mencari rest area di wilayah DIY dengan keluar dari tol.
“Bahkan di kawasan Prambanan, kalau tidak salah rencananya itu ada simpang susun, itu akan dibuat jalur baru ke arah Prambanan – Gading [Gunungkidul], ini dicantolkan ke tol. Nanti di sana ada Breksi, Nglanggeran dan lainnya,” ucapnya.

#Sunartono/harjo




FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/aww.

Baca selengkapnya di artikel "Dua Exit Tol Yogya-Bawen dan Yogya-Solo akan Ada di Sleman", https://tirto.id/echS

Sabtu, 02 November 2019

Kalender Jawa Bulan November 2019 Masehi

Kalender Jawa untuk periode bulan November 2019 Masehi dimulai tanggal 3 Mulud 1953 – Wawu, Sengara Langkir sampai dengan tanggal 2 Bakdamulud 1953 – Wawu, Sengara Langkir.


Kalender
Masehi 
Kalender Jawa
Tanggal Tanggal Hari Pasaran Wuku
1 Nov 2019 3 Mulud 1953 – Wawu Jumat Kliwon Bala
2 Nov 2019 4 Mulud 1953 – Wawu Sabtu Legi Bala
3 Nov 2019 5 Mulud 1953 – Wawu Minggu Pahing Wugu
4 Nov 2019 6 Mulud 1953 – Wawu Senin Pon Wugu
5 Nov 2019 7 Mulud 1953 – Wawu Selasa Wage Wugu
6 Nov 2019 8 Mulud 1953 – Wawu Rabu Kliwon Wugu
7 Nov 2019 9 Mulud 1953 – Wawu Kamis Legi Wugu
8 Nov 2019 10 Mulud 1953 – Wawu Jumat Pahing Wugu
9 Nov 2019 11 Mulud 1953 – Wawu Sabtu Pon Wugu
10 Nov 2019 12 Mulud 1953 – Wawu Minggu Wage Wayang
11 Nov 2019 13 Mulud 1953 – Wawu Senin Kliwon Wayang
12 Nov 2019 14 Mulud 1953 – Wawu Selasa Legi Wayang
13 Nov 2019 15 Mulud 1953 – Wawu Rabu Pahing Wayang
14 Nov 2019 16 Mulud 1953 – Wawu Kamis Pon Wayang
15 Nov 2019 17 Mulud 1953 – Wawu Jumat Wage Wayang
16 Nov 2019 18 Mulud 1953 – Wawu Sabtu Kliwon Wayang
17 Nov 2019 19 Mulud 1953 – Wawu Minggu Legi Kulawu
18 Nov 2019 20 Mulud 1953 – Wawu Senin Pahing Kulawu
19 Nov 2019 21 Mulud 1953 – Wawu Selasa Pon Kulawu
20 Nov 2019 22 Mulud 1953 – Wawu Rabu Wage Kulawu
21 Nov 2019 23 Mulud 1953 – Wawu Kamis Kliwon Kulawu
22 Nov 2019 24 Mulud 1953 – Wawu Jumat Legi Kulawu
23 Nov 2019 25 Mulud 1953 – Wawu Sabtu Pahing Kulawu
24 Nov 2019 26 Mulud 1953 – Wawu Minggu Pon Dukut
25 Nov 2019 27 Mulud 1953 – Wawu Senin Wage Dukut
26 Nov 2019 28 Mulud 1953 – Wawu Selasa Kliwon Dukut
27 Nov 2019 29 Mulud 1953 – Wawu Rabu Legi Dukut
28 Nov 2019 30 Mulud 1953 – Wawu Kamis Pahing Dukut
29 Nov 2019 1 Bakdamulud 1953 – Wawu Jumat Pon Dukut
30 Nov 2019 2 Bakdamulud 1953 – Wawu Sabtu Wage Dukut

Rabu, 30 Oktober 2019

Awal November Kenaikan Upah Minimum DIY 2020 Diumumkan


Upah minimum kota Yogyakarta tahun 2020 disepakati sebesar Rp 2.004.000. Nilai tersebut naik sebesar Rp 157.600 dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar Rp1.846.400.
Kesepakatan besaran UMK Kota Yogyakarta tersebut ditetapkan dalam rapat koordinasi gubernur, bupati dan walikota se-DIY yang digelar di Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (30/10/2019).
Sementara Untuk UMP DIY 2020 mengalami kenaikan sebesar Rp 133,685,52 dari UMP tahun 2019. Meski mengalami kenaikan, dipastikan UMP DIY tetap paling rendah seIndonesia.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY, Andung Prihadi Santosa menjelaskan, untuk besaran UMP maupun UMK di DIY telah ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.
Pemerintah Daerah di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sudah menyepakati besaran UMP dan UMK tahun 2020 melalui rapat koordinasi yang dilakukan oleh Gubernur, Bupati/Walikota se-DIY beserta jajarannya Rabu (30/10/2019)
“Sudah ada kesepakatan dari Dewan pengupahan provinsi, Kabupaten kota, Gubernur dan Bupati/Wali Kota. Besaran UMP dan UMK untuk tahun 2020 adalah mengacu PP 78 tahun 2015. Ada angka total kenaikan 8,51 persen,” ujar Andung kepada wartawan usai rakor di Kepatihan.


Dia menjelaskan, untuk formula perhitungan UMP dan UMK ini menggunakan angka, data-data dan inflasi. Termasuk mengacu pada aturan dari Menteri Tenaga Kerja. Dari perhitungan ini ditambahkan dengan kenaikan sebesar 8,51 persen.
Andung mengatakan, untuk UMP disepakati sebesar Rp 1.794.608,25 ada kenaikan dari UMP 2019 yang sebesar Rp 1.570.922.73. Dia juga mengatakan, untuk UMP ini perhitungannya hingga bilangan sen. UMP ini harus paling rendah dibandingkan dengan UMK.
“UMK pasti di atas UMP,” jelasnya.
Adapun besaran UMK di seluruh DIY mulai yang paling tinggi adalah Kota Yogyakarta hingga paling rendah Kabupaten Gunungkidul adalah:


Untuk Kota Yogyakarta UMK yang disepakati adalah sebesar Rp 2.004.000
Kabupaten Sleman UMK yang disepakati sebesar Rp 1.846.000
Untuk UMK Kabupaten Bantul telah disepakati sebesar Rp 1.790.500
UMK Kabupaten Kulonprogo disepakati sebesar Rp 1.750.500
Sedangkan Kabupaten Gunungkidul disepakati sebesar Rp 1.705.000
Andung menjelaskan untuk UMP ini akan dibuat surat keputusan Gubernur dan ditetapkan pada tanggal 1 November mendatang.
Sementara, untuk UMK ini akan ditetapkan pada tanggal 2 November. Dia mengatakan kesepakatan besaran ini sudah final sehingga dipastikan tidak ada perubahan angka untuk UMK dan UMP yang akan diterapkan pada 1 Januari 2020 mendatang ini.
“DIY ini termasuk yang paling cepat dalam menetapkan UMP dan UMK hanya butuh 1 hari saja dibandingkan dengan daerah lain,” paparnya

#ais

Selasa, 22 Oktober 2019

Cupu Panjala 2019: 23 Lembar Awal Bersih, Berikut Selengkapnya




Selasa, (22/10/2019) dini hari dilaksanakan adat tradisi pembukaan Cupu Kyai Panjala di kediaman pemilik, Dwijo Sumarto di Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul.
Pelaksanaan tradisi tersebut disaksikan oleh ribuan warga yang berasal dari Gunungkidul maupun dari luar Gunungkidul seputar DIY Jateng.
Berdasar pantauan, 23 lembar awal kain mori pembungkus cupu kosong tanpa gambar. Pembaca gambar yang menggunakan pengeras suara menyebutnya garing atau resik.
Selanjutnya, adapun gambar-gambar yang muncul sebagai berikut;
1. 23 lembar mori resik, garing
2. Kidul kulon gambar togog madep ngidul ngulon
3. Kulon gambar kerangka manusia
4. Wetan gambar sirah singa
5. Kulon gambar pitik lan kuthuk madep ngalor
6. Wetan ana bercak getih teles
7. Lor gambar wong wadon tangane diangkep neng nduwur sirah madep ngalor
8. Wetan ana warna kaya enjet/gamping
9. Lor wetan wong lanang kathok cekak, macul
10. Kidul gambar ombak segara
11. Kemule tetep garing
12. Kidul kulon gambar Keris
13. Lor wetan gambar wong lanang olah raga madep ngidul ngetan
14. Wetan ana rambut cendak
15. Lor wit jagung ora ana godhonge ning ana wohe
16. Kulon gambar kresna
17. Lor wetan gambar wong lanang mlumah tangane ngrancung antarane kiwa tengen sirah ng mburi
18. Kidul wetan gambar Asu madep ngulon
19. Kulon gambar helikopter
20. Kidul wetan gambar sirah 4, cilik 2 gedhe 2
21. Kulon gambar komodo
22. Kemule cerak kothak 2 lembar garing, kaku, resik
23. Semar Kinandhu doyong ngalor ngulon
24. Palang Kinanthang jejeg
25. Kenthi Wiri Doyong Ngalor ngetan.


#kabarhandayani

Sabtu, 28 September 2019

Sejarah Kalender Jawa







Tidak semua suku/ bangsa di dunia, bahkan sangat sedikit yang memiliki kalender sendiri, dan Jawa termasuk di antara yang sedikit itu. Kalender Jawa diciptakan oleh mPu Hubayun, pada tahun 911 Sebelum Masehi. Pada tahun 50 SM Raja/ Prabu Sri Mahapunggung I  (juga dikenal sebagai Ki Ajar Padang I) melakukan perubahan terhadap huruf/ aksara, serta sastra Jawa.
Bila kalender Jawa dibuat berdasarkan‘Sangkan Paraning Bawana‘ (=asal usul/ isi semesta), maka aksara Jawa dibuat berdasarkan “Sangkan Paraning Dumadi” (=asal usul kehidupan), serta mengikuti peredaran matahari (=Solar System).

Pada 21 Juni 0078 Masehi, Prabu Ajisaka mengadakan perubahan terhadap budaya Jawa, yaitu dengan memulai perhitungan dari angka nol (‘Das’=0), menyerap angka 0 dari India, sehingga pada tanggal tersebut dimulai pula kalender Jawa ‘baru’, tanggal 1 Badrawana tahun Sri Harsa, Windu Kuntara ( = tanggal 1, bulan 1, tahun 1, windu 1), hari Radite Kasih (-Minggu Kliwon), bersamaan dengan tanggal 21 Juni tahun 78 M.
 


Selama ini, banyak pendapat yang mengatakan, bahwa Prabu Ajisaka ialah orang India/ Hindustan. Akan tetapi hal tersebut nampaknya kurang tepat, dengan fakta-fakta kisah dalam huruf Jawa, bahwa :

1. Pusaka Ajisaka yang dititipkan kepada pembantunya berujud keris. Tak ditemukan bukti-bukti peninggalan  keris di India, dan keris adalah asli Jawa.

2. Para pembantu setia Ajisaka sebanyak 4 (empat) orang (bukan 2 orang seperti yang banyak dikisahkan), dengan nama berasal dari bahasa Kawi yaitu:
  •  DURA (dibaca sesuai tulisan), yang dalam bahasa Kawi berarti anasir alam berupa AIR artinya = ‘bohong’,  sangat jauh berrbeda dengan aslinya.
  •  SAMBADHA (dibaca seperti tulisan), yang dalam Bahasa Kawi berarti anasir alam yang berupa API artinya “mampu” atau ‘sesuai’.
  •  DUGA ( dibaca seperti tulisan), dalam bahasa Jawa Kuna berarti anasir TANAH, namun bila dibaca dengan cara kini, akan berarti “pengati-ati’ atau ‘adab’.
  •  PRAYUGA (dibaca seperti tulisan), dalam Bahasa Jawa Kuna artinya adalah “ANGIN“, dan bila dibaca dengan cara sekarang akan berarti ‘sebaiknya/ seyogyanya”.
  • Keempat unsur/ anasir tersebut adalah yang ada di alam semesta (makrokosmos / bawana ageng) serta dalam tubuh manusia (mikrokosmos / bawana alit).

3. Nama Ajisaka ( Aji & Saka)  adalah berasal dari Bahasa Jawa Kuna, yang berarti Raja/ Aji yang Saka (= mengerti & memiliki kemampuan spiritual), Raja Pandita, Pemimpin Spiritual. Prabu Ajisaka juga bernama Prabu Sri Mahapunggung  III, Ki Ajar Padang III, Prabu Jaka Sangkala, Widayaka, Sindhula. Petilasannya adalah api abadi di Mrapen, Grobogan, Purwodadi, Jawa Tengah.

Pada saat Sultan Agung Anyakrakusuma bertahta di Mataram abad XVI Masehi, terdapat 3 unsur kalender budaya dominan, yaitu Jawa/ Kabudhan (solar system), Hindu (solar system), dan Islam (Hijriah, Lunar Sytem), sementara di wilayah Barat/ Sunda Kelapa dan sekitarnya sudah mulai dikuasai bangsa asing / Belanda. Untuk memperkuat persatuan di wilayah Mataram guna melawan bangsa asing, Sultan Agung melakukan penyatuan kalender yang digunakan. Akan tetapi penyatuan kalender Jawa /Saka dan Islam/Hijriah tersebut tetap menyisakan selisih 1 (satu) hari, sehingga terdapat 2 perhitungan, yaitu istilah tahun Aboge (tahun Alip, tgl 1 Suro jatuh hari Rebo Wage), serta istilah Asapon (Tahun Alip, tg 1 Suro, hari Selasa Pon). Perubahan ini bertepatan dengan tanggal 1 Muharram 1043 Hijriah, 29 Besar 1554 Saka, 8 Juli 1633 Masehi. Tanggal tersebut ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan Suro tahun 1554 Jawa (Sultan Agungan) yang digunakan sekarang.

Apabila ditilik berdasarkan penanggalan Jawa yang diciptakan mPu Hubayun pada 911 SM, maka saat ini (2013) adalah tahun 2924 Jawa (asli, bukan Saka, Jawa kini, atau Hijriah). Sebuah Kalender asli yang dibuat tidak berdasarkan agama, atau aliran kepercayaan apapun.
Dengan demikian, tinggal sedikit lagi untuk menemukan bukti-bukti arkeologi autentik lainnya. Setelah ditemukan lempeng tanah persawahan yang diperkirakan berumur 6000 tahun lebih di kedalaman laut Jawa, maka penemuan kalender yang telah berumur 15 ribu tahun itu bisa jadi memang berasal dari peradaban Nusantara.

#infobudaya

Cara Menghitung Weton dengan Mudah dan Artinya

Dalam perhitungan weton, orang Jawa mengenal istilah Neptu. Neptu merupakan salah satu hal yang sering kali dipertimbangkan dalam meramalkan watak seseorang berdasarkan weton kelahirannya. Neptu juga digunakan untuk meramalkan kecocokan jodoh, kecocokan pekerjaan, besarnya rejeki yang dibawa seorang anak dalam keluarganya, dan lain sebagainya. Nah, bagi Anda yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai neptu Jawa dan bagaimana cara menghitung weton kelahiran dalam primbon Jawa, silakan simak pembahasan berikut ini!

Neptu Jawa

Neptu adalah besaran nilai yang dihitung dengan menjumlahkan nilai hari dan nilai pasaran. Seperti diketahui, selain mengenal hari seperti minggu, senin, selasa, dst sampai sabtu, orang Jawa memang mengenal istilah pasaran seperti pahing, pon, wage, kliwon, dan legi. Perpaduan antara hari dan pasaran inilah yang disebut dengan weton.

Cara Menghitung Weton dan Neptunya

Masing-masing weton memiliki nilai neptu yang berbeda. Nilai neptu tersebut berkisar antara 7 sampai yang terbesar adalah 18. Yang neptu 7 (yang paling rendah) dimiliki oleh weton Selasa Wage, sementara neptu 18 (yang paling tinggi) dimiliki oleh weton Sabtu Pahing. Secara lengkap tentang bagaimana cara menghitung weton berdasarkan neptu Jawanya, silakan simak tabel berikut ini!


HariNilai Pasaran Nilai
Minggu 5 Wage 4
Senin 4 Kliwon 8
Selasa 3 Legi 5
Rabu7 Pahing 9
Kamis 8 Pon 7
Jumat 6

Sabtu 9


 Dari tabel di atas, kita dapat melihat bahwa hari dan pasaran memiliki nilai yang berbeda-beda. Untuk menghitung neptu weton kita hanya perlu menjumlahkan nilai hari dan pasaran dari weton yang bersangkutan.

Contoh, jika kita ingin mengetahui neptu weton Selasa Pahing, maka kita harus menjumlahkan nilai hari Selasa (3) dan nilai pasaran Pahing (9) sehingga diperoleh nilai neptu Jawa sebesar 12.

Contoh perhitungan weton jawa lainnya, jika kita ingin mengetahui neptu weton Minggu Pahing, maka kita harus menjumlahkan nilai hari Minggu (5) dan nilai pasaran Pahing (9), sehingga diperoleh nilai neptu Jawa sebesar 14.

Nah, untuk memudahkan Anda dalam mengetahui nilai neptu Jawa tanpa harus menghitungnya, silakan temukan nilai neptu weton yang Anda cari pada tabel di bawah ini!



HariWage (4) Kliwon (8) Legi (5) Pahing (9) Pon (7)
Minggu (5) 913101412
Senin (4) 81291311
Selasa (3) 71181210
Rabu (7) 1115121614
Kamis (8) 1216131715
Jumat (6) 1014111513
Sabtu (9) 1317141816

Netpu Bulan dan Tahun Jawa

Selain mengenal neptu hitungan weton, orang Jawa kuno juga mengenal neptu hitungan untuk bulan dan tahun. Kendati demikian hitungan kedua neptu tersebut jarang digunakan dalam meramalkan watak atau kepribadian manusia berdasarkan hari kelahirannya.

Neptu bulan dan tahun lebih sering digunakan sebagai alat untuk memperkirakan musim tanam, musim hujan, musim kemarau, hama penyakit pada tanaman, jumlah panen pada kegiatan pertanian yang dilakukan, banyaknya tangkapan ikan bagi nelayan, dan lain sebagainya.

Meski tak begitu sering digunakan, neptu Jawa untuk hitungan bulan dan tahun tentu tak ada salahnya bila kita pelajari. Nah, secara lengkap berikut ini adalah nilai neptu dari bulan dan tahun Jawa yang dapat kami rangkum!


BulanNilai Tahun Nilai
Suro7Alip1
Sapar2Ehe5
Mulud3Jimawal3
Bakda Mulud5Je7
Jumadil Awal6Dal4
Jumadil Akhir1Be2
Rejeb2Wawu6
Ruwah4Jimakhir3
Pasa (Puasa)5

Sawal7

Dulkangidah (Sela)1

Dulkahijjah (Besar)3


 Untuk diketahui, dalam kalender Jawa dikenal 12 bulan yang penanggalannya mirip seperti penanggalan hijriah (kalender Islam). Sementara dalam hitungan tahun, kalender Jawa mengenal adanya siklus pergantian tahun dalam sewindu dengan nama-nama yang memiliki makna yang khas, yaitu tahun Alip, tahun Ehe, tahun Jimawal, tahun Je, tahun Dal, tahun Be, tahun Wawu, dan tahun Jamakhir.

Nah, demikianlah sekilas pemaparan mengenai hitungan neptu Jawa dan cara menghitung weton yang bisa kami sampaikan. Setelah memahami artikel ini, tentu cara menghitung weton, bulan, dan tahun Jawa sudah Anda kuasai. Cukup mudah bukan? Semoga bermanfaat dan dapat membantu mengenalkan kembali budaya Jawa yang hampir punah ini. Salam!

#wetonjogja

Kalender Jawa Bulan Oktober 2019 Masehi

Kalender Jawa untuk  bulan Oktober 2019 Masehi dimulai tanggal 1 Sapar 1953 – Wawu, Sengara Langkir sampai dengan tanggal 2 Mulud 1953 – Wawu, Sengara Langkir
  


Kalender
Masehi 
Kalender Jawa
Tanggal Tanggal Hari Pasaran Wuku
1 Okt 20191 Sapar 1953 – Wawu Selasa Wage Maktal
2 Okt 2019 2 Sapar 1953 – Wawu Rabu Kliwon Maktal
3 Okt 2019 3 Sapar 1953 – Wawu Kamis Legi Maktal
4 Okt 2019 4 Sapar 1953 – Wawu Jumat Pahing Maktal
5 Okt 2019 5 Sapar 1953 – Wawu Sabtu Pon Maktal
6 Okt 2019 6 Sapar 1953 – Wawu Minggu Wage Wuye
7 Okt 2019 7 Sapar 1953 – Wawu Senin Kliwon Wuye
8 Okt 2019 8 Sapar 1953 – Wawu Selasa Legi Wuye
9 Okt 2019 9 Sapar 1953 – Wawu Rabu Pahing Wuye
10 Okt 2019 10 Sapar 1953 – Wawu Kamis Pon Wuye
11 Okt 2019 11 Sapar 1953 – Wawu Jumat Wage Wuye
12 Okt 2019 12 Sapar 1953 – Wawu Sabtu Kliwon Wuye
13 Okt 2019 13 Sapar 1953 – Wawu Minggu Legi Manahil
14 Okt 2019 14 Sapar 1953 – Wawu Senin Pahing Manahil
15 Okt 2019 15 Sapar 1953 – Wawu Selasa Pon Manahil
16 Okt 2019 16 Sapar 1953 – Wawu Rabu Wage Manahil
17 Okt 2019 17 Sapar 1953 – Wawu Kamis Kliwon Manahil
18 Okt 2019 18 Sapar 1953 – Wawu Jumat Legi Manahil
19 Okt 2019 19 Sapar 1953 – Wawu Sabtu Pahing Manahil
20 Okt 2019 20 Sapar 1953 – Wawu Minggu Pon Prangbakat
21 Okt 2019 21 Sapar 1953 – Wawu Senin Wage Prangbakat
22 Okt 2019 22 Sapar 1953 – Wawu Selasa Kliwon Prangbakat
23 Okt 2019 23 Sapar 1953 – Wawu Rabu Legi Prangbakat
24 Okt 2019 24 Sapar 1953 – Wawu Kamis Pahing Prangbakat
25 Okt 2019 25 Sapar 1953 – Wawu Jumat Pon Prangbakat
26 Okt 2019 26 Sapar 1953 – Wawu Sabtu Wage Prangbakat
27 Okt 2019 27 Sapar 1953 – Wawu Minggu Kliwon Bala
28 Okt 2019 28 Sapar 1953 – Wawu Senin Legi Bala
29 Okt 2019 29 Sapar 1953 – Wawu Selasa Pahing Bala
30 Okt 2019 1 Mulud 1953 – Wawu Rabu Pon Bala
31 Okt 2019 2 Mulud 1953 – Wawu Kamis Wage Bala
.